Wow. Jualan Bubur 3,5 jam per hari, Syahdan Miliki Omset 67.500.000 per Bulan

Posted on 128 views

Rodaberputar.com-Wow…Hanya Jualan Bubur 3,5 jam per hari, Syahdan miliki omset 13.500.000 per bulan

Seperti biasa, pagi itu saya membeli bubur langganan di Jalan Bukit Barisan, Pekanbaru. Namanya Bubur Raja Polah.

Kebetulan saat saya datang, pembelinya lagi sepi. Rasa penasaran pun datang untuk bertanya pada pemilik dagangan bernama Syahdan tersebut. Pria itu masih muda, berumur sekitar 27 tahunan.

Saya: Udah berapa lama jualan bubur ini bang?. Syahdan: Kalau di Bukit Barisan ini sekitar dua tahun. Di tempat lain udah ada sekitar lima tahunan lah. Saya: oh, ada cabang lain juga ya bang?. Syahdan: Alhamdulillah udah lima cabang bang. Dua di Panam, masing-masing satu di Marpoyan, Kavling dan Bukit Barisan. Saya: wah, udah banyak ya bang. Itu yang jualan siapa aja bang?

Syahdan: saya,abang dan sepupu-sepupu saya bang. Saya: buka dari jam berapa bang?. Syahdan: Dari pukul enam hingga setengah 10 pagi bang. Saya: Kalau boleh tahu, itu omsetnya berapa sehari bang?. Syahdan: Rp450 ribu lah bang. Saya: keuntungan bang? Syahdan: Rp100 ribu hingga Rp150 ribu sudah bisa ditabung bang. Diluar pengeluaran seperti modal, makan sehari-hari dan biaya-biaya lainnya.

Wah, coba anda kalikan penghasilan si abang Syahdan ini, hanya berjualan 3,5 jam per hari. Sehari: omsetnya: Rp450.000. Sebulan: 450.000 x 30 = Rp13.500.000. Uang yang bisa ditabung. Diluar makan, jalan-jalan, tranportasi dan biaya lainnya loh ya: Rp100.000 x30 =3000.000. Itu baru satu gerobak, dia punya lima cabang:

Taruhlah penghasilannya sama di semua gerobak, jadi sebulan omset dari semua cabangnya: Rp13.500.000×5 =67.500.000. Uang yang bisa ditabung: Rp3000.000×5=15 juta.

Catat ya!: hanya berjualan menggunakan gerobak dan waktu yang dipakai cuma 3,5 jam.

Walau demikian, untuk meraih keberhasilan tersebut ia tidak langsung mendapatkannya seperti memutarbalikkan telapak tangan. Ia harus berjuang dari bawah hingga menjadi sukses seperti sekarang ini.

Ceritanya, Syahdan yang berasal dari Cilacap, Jawa Barat ini melanjutkan kerja ke Jakarta setelah menamatkan diri dari SMA. Di ibukota Indonesia itu, Syahdan menjadi karyawan pada sebuah perusahaan swasta. Hanya bertahan dua tahun, Syahdan memutuskan untuk berhenti bekerja, karena ia mengaku tidak cocok menjadi anak buah orang lain. Syahdan pun memutuskan untuk merantau ke Pekanbaru, mengikuti jejak kakaknya berjualan bubur ayam.

Bermodalkan penghasilan dari kerja sebelumnya dan disupport oleh sang kakak, Syahdan pun memulai buka gerai dengan gerobak di Jalan Bukit Barisan.

“Awal saya jualan di sini, belum banyak orang yang beli. Paling hanya satu dua orang sehari. Kejadian itu berlangsung hingga sebulan. Tapi saya tidak putus asa dan yakin orang-orang yang udah belanja pada balik lagi. Alhamdulillah satu-satu, jadi dua, tiga dan sekarang sudah puluhan orang yang beli sehari. Jam setengah 10 sudah habis,”ungkapnya.

Syahdan mengatakan, kunci utama keberhasilannya adalah keyakinan, percaya diri dan rasa dari bubur yang ia jual. “Kami mengutamakan rasa, walau harga bubur yang kami jual lebih mahal dari penjual lain. Pelanggan masih tetap kembali ke kami, “ucapnya.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *