Malas-malasan Belajar, Andi Lulus Juga SMA, Tapi Andi Kaget Saat Lihat ini

Posted on 110 views

 

ilustrasi/antara

RODABERPUTAR.COM-Buat kamu para siswa SD, SMP dan SMA, janganlah bermalas-malasan dalam belajar di sekolah dan menganggap santai semua matapelajaran, jika tidak mau bernasib seperti seniormu yang tamat SMA pada tahun lalu. Jangan sampai menyesal di kemudian hari ya. Simak kisah mereka.

Di sebuah sekolah besar yang berada di Kota Pekanbaru, beberapa siswanya memiliki kelakuan yang cukup membuat para guru, merasa jengkel, gerah dan capek memberikan pengajaran, baik itu di bidang pelajaran, akhlak, maupun tingkah laku.

Bagaimana tidak, beberapa remaja tersebut membuat perangai diluar batas anak sekolahan, mulai dari cabut, alpa berkali-kali, hingga tidak masuk ujian dan melakukan remedial berulang-ulang. Hal itu mereka lakukan, hampir di semua matapelajaran sekolah.

Tiga orang diantaranya adalah Andi, Alex dan Bayu, mereka merupakan anak pejabat dan berprestasi di bidang olahraga bola. Alhasil, pihak sekolah terpaksa menaikkan nilai rapor siswa-siswa tersebut, setelah melakukan ujian remedial dan selalu naik kelas.

Tahun ajaran 2016/2017 lalu, tiga sekawan tersebut berhasil duduk dibangku kelas tiga. Walau sudah di tahun terakhir, tingkah laku mereka masih tetap sama, jarang masuk kelas, cabut dan sering tidak mengerjakan tugas. Dengan alasan, mereka terlalu sibuk latihan olahraga bola.

Beberapa orang guru sudah menegur Andi dan kawan-kawan, untuk rajin masuk kelas dan belajar, karena waktu mereka untuk bersantai-santai tinggal beberapa bulan lagi, sebelum ujian nasional.

“Santai lah buk, jangan sibuk-sibuk betul mengingatkan. Kami bisa lulus juga kok. Masalah sepele itu buk,”ujar Andi beberapa kali. Para guru di sekolah itu pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

Tahun 2017 kemarin, Andi dan kawan-kawan mengikuti ujian nasional secara online menggunakan komputer. Soal ujian antar satu siswa dengan siswa lain tidaklah sama seperti ujian biasanya,sehingga masing-masingnya tidak bisa mencontek ke kiri, kanan, depan, belakang.

Walaupun bingung dan tidak bisa mengerti hampir semua soal, Andi, Alex dan Bayu masih tetap menjawab semua soal, karena soalnya berupa objective.

“Ah, sembarang pilih A, B, C, D atau E, saja. Kan hasil ujian nasional tidak 100 persen menentukan kelulusan,”pikir Andi.

Ia pun paling cepat selesai ujian dan keluar ruangan dibandingkan teman-teman lainnya.

Saat pengumuman kelulusan, baik Andi, Alex maupun Bayu berhasil lulus sekolah.

“Yes, kan iya tuh, gak perlu rajin amat belajar, kita lulus juga kan,”ucap Andi kepada teman-temannya.

Mereka merayakan kelulusan dengan corat-coret baju dan konvoi keliling Pekanbaru.

Beberapa minggu kemudian, Andi, Alex dan Bayu kembali ke sekolah untuk melihat dan mengambil ijazah, nilai rapor dan nilai ujian nasionalnya.

Saat membuka nilai rapor, Andi senyum-senyum, karena nilainya cukup lumayan.

Raut wajah Andi, Alex dan Bayu tiba-tiba berubah saat melihat nilai hasil ujian nasionalnya. Ternyata di semua mata pelajaran, nilai mereka berkisar antar 2 koma hingga 3 koma.

Melihat itu, muka andi pun berkoma-koma. “Beneran nilai saya segini buk?. Rendah kali. Saya mau masuk sekolah polisi rencananya,”ujarnya pada guru yang memberikan hasil ujian.

“Iya, memang segitu nilai kamu. Itu kan ujiannya online, jadi hasilnya langsung diberikan oleh pusat dan tanpa rekayasa. Emang berapa nilai terendah untuk masuk sekolah polisi?,”sambung gurunya.

“6,5 buk,”ucapnya singkat dengan muka galau.

Nilai andi berapa?. 2 sampai 3 koma. Nilai terendah masuk sekolah polisi berapa?, 6,5. Bisa masuk gak dia ke kepolisian?. Ya, gak lah, sekarang untuk masuk kepolisian serba terbuka, tidak ada sogok-sogok an.

Tidak lama setelah mendapat nilai tersebut, orangtua Andi yang katanya pejabat datang ke sekolah untuk meminta dan memohon mengubah nilai tersebut.

“Ya, tidak bisa pak. Nilai itu sudah tersimpan di data nasional dan sudah finish. Kami tidak bisa mengubahnya,”ujar kepala sekolah santai.

“Kalau tidak, saya rela dia ulang satu tahun lagi, agar nilainya bisa naik dan bisa masuk kepolisian, sesuai keinginan kami,”ungkapnya.

“Sekali lagi mohon maaf ya pak, jika sudah tamat sekolah, tidak bisa ulang lagi. Ijazahnya sudah tercatat loh sampai ke pusat sana,”tambah Kepala Sekolah.

Sesal kemudian, tiada berguna. Beruntungnya Andi, punya orangtua kaya. Ia masih bisa melanjutkan kuliah, walau di jurusan yang biasa-biasa saja.

Ini adalah kisah asli di sebuah sekolah Pekanbaru. Jangan sampai mengikuti jejaknya ya. Untuk kelas tiga, sebentar lagi kalian ujian loh. Semoga ujiannya lancar ya. Salam. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *