Berbekal Sepeda, Kakek Asal Pekanbaru ini Jelajahi Negara Paman Sam

Posted on 61 views

RODABERPUTAR.COM-Usia tak menghalangi pria ini untuk melakukan berolahraga gowes sepeda sepanjang hari. Puluhan bahkan ratusan kilometer perjalanan sudah ia lakukan. Ia sudah Melintasi banyak wilayah di Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke, bahkan ia juga berhasil menjelajahi beberapa negara asia.

Tak hanya tour sepeda di sejumlah daerah di Indonesia dan di negara-negara Asia, Tasman Jen juga bersepeda di Negara Paman Sam, Amerika Serikat. Berikut kisah petualangan sepedanya dari Seattle ke San Francisco 1.700 Km yang disajikan secara bersambung mulai hari ini:

BISMILLAH….

Hidup seperti berpacu dengan waktu. Saat ini, kita masih sanggup berdiri dan berjalan dari satu sudut ke sudut lain, tapi akan tiba saatnya kita tidak bisa berbuat apa-apa. Lambat atau cepat nikmat itu akan hilang dan akhirnya berhenti di satu titik akhir.

Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang masih ada ini sampai saatnya nanti aku diberhentikan di satu titik peristirahatan. Aku syukuri nikmat sehat ini dengan menjalani bumi ciptaanNya.

Hidup juga berarti rangkaian suatu tanda titik. Banyak sekali titik-titik di bumi ini yang indah untuk dihubungkan. Dari titik-titik itulah kotemplasiku dengan sang maha pencipta dan jalan mencari jawaban juga membentang.

Jika dunia ini penuh dengan titik-titik yang runut untuk dihubungkan dan dicari keterhubungannya, mengapa harus berdiam di satu titik? Aku terpana sebuah ungkapan sang ulama Imam Syafi’i Rahimahullah tentang indahnya suatu perjalanan:

“Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan berjalanlah ke negeri orang. Berjalanlah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.“

Aku berharap banyak pembelajaran dari rangkaian suatu perjalanan yang penuh tanda tanya. Takut..? Iya tapi rasa takutlah yang menjadikan aku lebih dekat dengan Allah sang pelindungku. Aku ingin mencari mutiara-mutiara kebaikan yang tertanam jauh dari tempat di mana diri ini tenang bersemayam.

Yaaa… Rumah tentu saja. Tempat itu menjanjikan ketenangan dan kenyamanan kehidupan. Tapi, terlintas di benak ini, bahwa tanda tanya agung juga memberikan tantangan bagi ku untuk menyadari bahwa dalam suatu ketenangan hidup seringkali tersimpan kehidupan yang beku dan melenakan ingatan.

Hidup memang jalinan yang menawarkan pilihan-pilihan. Ke mana hati bertaut, di situlah oase bersemayam. Dalam kepalaku tertanam banyak mimpi yang bertahan untuk memuntahkan sinarnya.
Kini saatnya aku berjalan lagi merekam tradisi dan pengalaman untuk dijadikan cermin dalam sebuah bingkai rona kehidupan.

Tidak semua tindakanku layak ditiru juga. Aku hanyalah seorang yang haus akan sebuah perjalanan. Petualangan-petualangan kecil yang kutemui hanyalah bentuk dari ketetapan-ketetapan hukum Ilahi dan pesan yang dikidungkan oleh bathinku.

Aku yang mencoba merangkai pengalaman dalam hidup hanyalah seorang pengelana yang bertamasya dalam diri. Demi sebuah pencarian dari jawaban yang menggantung di ujung tanda tanya dari proses perjalanan ini.

Salamku untukmu sahabatku semua.

Terimakasihku pada istriku Nina serta anak cucuku di Pekanbaru dan San Francisco yang telah berikan doa keselamatan buatku serta maafkan atas ke”bandelan” inyiak (kakek) ini. Semoga Allah mencukupi dan menjaga kalian yang ditinggal. Aamiiin.

Seattle to San francisco July 30th 2017

Belum cukup satu tahun istirahat di rumah setelah perjalanan terakhir di pulau Kalimantan, tanpa aku sadari keinginanku untuk berkelana muncul lagi.

Anakku Bayu yang tinggal di San Francisco mengajak aku dan Nina ibunya untuk datang berkunjung ke rumahnya di California, Amerika Serikat. Mendengar Amerika ini, ideku untuk turing sepeda di Amerika bagaikan bara yang tersulut api yang langsung menyala.

Sejak pensiun tahun 2012 dari pekerjaanku dari perusahaan perminyakan di Riau aku menyalurkan hobi turing sepeda jarak jauh ini ke beberapa negara ASEAN. Namun tidak pernah terbayang aku akan bisa bertualang di negeri Colombus tersebut.

Negerinya jauh tentu memerlukan biaya yang tinggi serta situasi poltik rasial anti imigran dan Muslim dari pemerintahan Donald Trump, sangat kurang kondusif untuk dikunjungi.

Namun semua itu tidak bisa meredakan keinginanku untuk melakukan perjalanan yang besar ini. Akua hanya manusia biasa dengan impian setinggi langit. Namun aku percaya pada Tuhan dan sanggup memperjuangkannya untuk mencapai mimpi mimpi ini.

Misiku tidak lain hanya menambah wawasan dengan menikmati alam ciptaan Allah, mensyukuri nikmat sehat yang diberikan Allah serta membawa pesan perdamaian dengan menambah sahabatan di belahan bumi Amerika ini tanpa memandang suku bangsa, ras, keyakinan dan status sosialnya.

Aku akan bawa bendera Indonesia sebagai identitasku dari negri yang ramah dan damai di bumi khatulistiwa dari Seattle ke San francisco 1.700 Km.

Aku mulai mengumpulkan data untuk perencanaan perjalanan, Google Map aku buka serta jaringan komunikasi media sosial dengan kawan-kawan pesepeda dari luar negeri, khususnya yang sudah berpengalaman turing di Amerika Serikat, aku tingkatkan. Dari beberapa track atau jalur yang menarik dan menjadi impian para peturing sepeda dunia dengan historical road US 101.

Akhirnya kuputuskan ambil jalur sepanjang Pacific Coast yaitu dimulai dari Kota Seattle Washington menuju ke selatan Oregon dan finish di San francisco California sejauh lebih kurang 1.700 Km dengan melewati tiga negara bagian.

Dari beberapa informasi dari peturing sepeda yang pernah melewati jalur itu mengatakan rute ini rute yang termasuk berat dengan tanjakan yang tinggi dan suhu udara yang kadang kala ekstrim disertai hembusan angin pasifiknya.

Pemetaan sudah aku lakukan, namun tidaklah sempurna masih banyak kekurangannya terutama masalah penginapan yang memang tidak bisa dipastikan setiap hari.

Touring bersepeda sangat bergantung pada fisik yang setiap hari tidak sama kondisinya. Begitu juga cuaca yang kadang-kadang mengharuskan kita untuk berhenti. Namun di situlah tantangannya petualangan bersepeda itu.

Untuk perlengkapan sepeda seperti pannier serta rack depan dan belakang akan aku bawa dari Indonesia, sepeda yang akan dipakai adalah sepeda milik Bayu yanga ada di Amerika Serikat.

Sepeda Releigh buatan England jenis MTB ini sudah pernah aku coba pada dua tahun yang lalu dan rasanya cukup layak untuk dibawa touring jarak jauh.

Rencana perjalanan touring ini pada 29 Juli 2017. Jadi aku mempunyai waktu enam bulan yang bisa dimanfaatkan untuk latihan fisik. Biasanya aku jogging 2 jam atau lari 10 Km sebanyak 5 kali seminggu di daerah yang agak berbukit dekat rumahku di Rumbai Pekanbaru. (*)

Sumber: Tribun Pekanbaru

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *